Logo Griya Bayar - Mitra PPOB Resmi Indonesia
GRIYA BAYAR

BEI Soroti ISEA! Indo American Seafoods Bongkar Fakta Piutang Macet dan Ancaman Tarif Impor AS

Novia Sundari
12 September 2026
4 menit baca
BEI Soroti ISEA! Indo American Seafoods Bongkar Fakta Piutang Macet dan Ancaman Tarif Impor AS

JAKARTA — PT Indo American Seafoods Tbkmemberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesiaatas sejumlah sorotan terhadap laporan keuangan tahun buku 2025 dan proyeksi keuangan saat penawaran umum perdana sahamPenjelasan tersebut mencakup penurunan uang muka pembelian bahan baku, membengkaknya piutang usaha yang telah jatuh tempo, hingga dampak tarif impor dan bea anti-dumping Amerika Serikat terhadap bisnis ekspor udang Perseroan.

Corporate Secretary PT Indo American Seafoods Tbk, Gustav, menyampaikan seluruh penjelasan tersebut melalui surat tanggapan kepada BEI tertanggal 10 September 2026.

Uang Muka Bahan Baku Turun 98 Persen karena Pasokan Sudah Direalisasikan

BEI menyoroti penurunan uang muka pembelian bahan baku dari Rp33,71 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp610,25 juta pada akhir 2025 atau turun sekitar 98,19%.

Manajemen menjelaskan penurunan tersebut terjadi karena uang muka yang dibayarkan pada 2024 telah direalisasikan menjadi pasokan bahan baku selama 2025.

Dengan demikian, sebagian besar uang muka telah berubah menjadi persediaan setelah barang diterima Perseroan.

Seluruh Piutang Usaha Sudah Jatuh Tempo

BEI juga meminta penjelasan mengenai kualitas piutang usaha Perseroan.

Per 31 Desember 2025, seluruh piutang usaha sebesar Rp137,68 miliar tercatat telah melewati jatuh tempo, berbeda dengan posisi akhir 2024 ketika hampir seluruh piutang masih belum jatuh tempo.

ISEA menjelaskan kondisi tersebut disebabkan sebagian piutang telah melewati tanggal jatuh tempo sehingga penyajian umur piutang tersebar pada kategori 1–30 hari, 31–60 hari, dan seterusnya.

Perseroan menegaskan hal itu bukan akibat perubahan kebijakan pencatatan piutang.

Untuk menjaga kualitas penagihan, Perseroan terus melakukan komunikasi dan negosiasi dengan para pembeliagar pembayaran berjalan lancar.

Manajemen juga menilai cadangan kerugian penurunan nilai piutang sebesar Rp2,52 miliar masih memadai karena pembayaran dari pembeli utama umumnya tidak melewati 90 hari.

Buyer Amerika Serikat Masih Jadi Pelanggan Utama

Salah satu pelanggan terbesar ISEA, Central Seaway Co., Inc., menyumbang penjualan sebesar Rp178,72 miliar atau sekitar 31,68% dari total penjualan 2025.

Perseroan mengungkapkan hubungan bisnis dengan Censea telah terjalin sekitar 18 tahun dan didasarkan pada kepercayaan serta rekam jejak kerja sama yang panjang.

Censea biasanya menyampaikan kebutuhan pembelian tahunan, sementara kontrak tambahan dilakukan secara spot sesuai ketersediaan bahan baku.

Meski hubungan bisnis dinilai memiliki risiko rendah, Perseroan tetap menjalankan strategi diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada pelanggan tertentu.

Strategi tersebut dilakukan dengan menjaga hubungan dengan pelanggan lama sekaligus mencari pembeli baru melalui pameran dan kegiatan industri perikanan di pasar internasional.

Tarif Impor AS Picu Beban Duty Rp24,87 Miliar

BEI turut meminta penjelasan terkait munculnya beban duty sebesar Rp24,87 miliar pada 2025 yang sebelumnya tidak ada.

Manajemen menjelaskan beban tersebut berasal dari kebijakan Pemerintah Amerika Serikat yang mengenakan tarif impor terhadap produk Indonesia, termasuk produk perikanan.

Perseroan menyatakan kebijakan tersebut juga diterapkan terhadap negara eksportir udang lain seperti Vietnam dan Thailand.

Meski biaya penjualan meningkat akibat tarif sekitar 19%, permintaan produk udang Perseroan disebut masih tetap baik.

ISEA mengatakan perusahaan melakukan penyesuaian harga jual melalui komunikasi dengan pembeli untuk mengakomodasi tambahan biaya tersebut.

Biaya Anti-Dumping Diperkirakan Masih Berlanjut

Selain tarif impor, Perseroan juga mencatat biaya anti-dumping sebesar Rp10,66 miliar sepanjang 2025, meningkat sekitar 79,33% dibanding tahun sebelumnya.

Perseroan menjelaskan tarif anti-dumping ditetapkan oleh otoritas Pemerintah Amerika Serikat sesuai kebijakan perdagangan yang berlaku.

Manajemen memperkirakan biaya tersebut masih akan menjadi beban berulang karena kebijakan belum dicabut.

Untuk mengurangi dampaknya, Perseroan akan mempertahankan komunikasi dengan pembeli dan memperluas pasar ekspor ke negara yang tidak mengenakan tarif anti-dumping, seperti Jepang.

Beban Bank Naik, Fasilitas Kredit Tidak Bertambah

BEI juga menyoroti kenaikan beban administrasi bank dan provisi bank setelah Perseroan memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank SMBC Indonesia senilai US$14,5 juta.

Manajemen menjelaskan fasilitas tersebut digunakan untuk pembiayaan utang usaha (Account Payable Financing), pembiayaan pra-pengapalan (Pre-Shipment Financing), pembiayaan piutang (Account Receivable Financing), serta fasilitas kredit bergulir dengan tenor enam bulan.

Perseroan menegaskan tidak ada penambahan plafon kredit selama 2025. Peningkatan biaya administrasi dan provisi terutama disebabkan meningkatnya aktivitas transaksi keuangan perusahaan.

Margin Laba Menyusut Meski Penjualan Melonjak

Pendapatan ISEA sepanjang 2025 meningkat 74,92% menjadi Rp564,22 miliar dari Rp322,56 miliar pada 2024.

Namun, margin laba kotor turun dari 23,45% menjadi 19,84%.

Perseroan menjelaskan penurunan margin dipengaruhi meningkatnya kebutuhan bahan baku serta kenaikan biaya anti-dumping seiring meningkatnya volume penjualan ekspor.

Untuk meningkatkan profitabilitas, Perseroan akan mempertahankan penjualan kepada pelanggan yang sudah ada sekaligus memperbesar pangsa pasar ekspor yang dinilai lebih efisien, terutama ke Jepang.

ISEA Siapkan Perbaikan DER dan Likuiditas

BEI juga menyoroti rasio Debt to Equity RatioPerseroan yang mencapai 138,29%, lebih tinggi dibanding proyeksi saat IPO sebesar 95,84%.

Sementara Current Ratio turun menjadi 148,59%, lebih rendah dari proyeksi 182,53%.

Manajemen menyatakan fokus utama untuk memperbaiki struktur permodalan adalah meningkatkan laba agar ekuitas bertambah melalui akumulasi laba ditahan.

Selain itu, Perseroan berupaya memperkuat arus kas, memperluas pasar, serta mengoptimalkan pengelolaan utang lancar agar rasio likuiditas membaik.

Perseroan juga memastikan hingga penyampaian tanggapan kepada BEI tidak terdapat informasi atau kejadian material lain yang belum diungkapkan kepada publik dan dapat memengaruhi harga saham maupun kelangsungan usaha perusahaan.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

HomeDaftarFEETransaksiDeposit